FORUM KOMUNIKASI PUTRA PUTRI PURNAWIRAWAN DAN PUTRA PUTRI TNI POLRI

Home Berita Umum Pidato Ketua Umum FKPPI dalam rangka HUT FKPPI

Pidato Ketua Umum FKPPI dalam rangka HUT FKPPI

E-mail Print PDF

SAMBUTAN KETUA UMUM PP. FKPPI

DALAM RANGKA HARI ULANG TAHUN

KELUARGA BESAR FKPPI KE 32

12 SEPTEMBER 2010

----------------------------------------

ASS. W.W., Salam FKPPI,

 

Kader FKPPI dimanapun berada di seluruh Indonesia;


Pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah saya menyampaikan Dirgahayu HUT FKPPI yang ke 32, dimana dalam kesempatan tersebut bertepatan juga dengan perayaan Idul Fitri 1431 H, untuk itu kami juga mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Bathin” bagi yang merayakannya.

Dalam dua momen yang bertepatan tersebut tentunya mengandung hikmah bagi kita semua, bahwa kita perlu memperbaharui komitmen kita terhadap  diri dan pengabdian kita bagi kepentingan Organisasi, Bangsa Dan Negara.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kondisi apapun tidak akan pernah berubah apabila bukan kita sendiri yang ingin merubahnya, untuk itu marilah kita merenungi sejenak dalam refleksi peran Organisasi FKPPI selama ini dalam pengabdiannya seiring dengan perjalanan Sejarah Bangsa, khususnya dalam turut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saudara-saudaraku yang Saya Cintai dan Saya Banggakan,

Terlebih dahulu marilah kita melihat kebelakang tentang:

Sejarah Bangsa

Bangsa “Indonesia” telah ada sejak jaman dulu, bahkan sejarah menunjukkan bahwa bangsa kita termasuk bangsa yang disegani oleh Bangsa-Bangsa lain, Indonesia termasuk Negara Adikuasa untuk jamannya, namun kemajuan Bangsa kita turun ketitik nadirnya, dengan dijajah oleh Bangsa Eropa selam 350 tahun disusul dijajah Bangsa Jepang selama 3,5 tahun.

Terjadilah proses ‘pemiskinan’ dan ‘pembodohan’ yang dilakukan oleh para penjajah seperti layaknya sebuah Negara yang dijajah oleh Bangsa ‘pedagang rempah2’ bukan dijajah oleh Bangsa dari Negara Industri, dimana mereka hanya membutuhkan ‘tenaga kasar’ dari Sumber Daya Manusia (SDM) Bangsa kita, mereka tidak membutuhkan penampilan SDM, apalagi kualitas SDMnya, sehingga pendidikan tidak perlu ditingkatkan, bahkan Bahasa Internasionalpun tidak diajarkan sehingga semata hanya tenagalah yang dieksploitasi secara besar-besaran, seperti kegiatan tanam paksa, kerja rodi dan lain sebagainya.

Berbeda dengan apabila Bangsa kita dijajah oleh Negara Industri, maka SDM nya akan diciptakan menjadi Para Pegawai handal yang menguasai Bahasa Internasional, dan berkemampuan dengan kualitas maksimal, sehingga rata-rata Negara jajahannya menjadi Negara yang maju dan modern, setidaknya manusianya mendapatkan pendidikan lebih baik.

Faktor-faktor penyebabnya

1.    Sempitnya Wawasan

Pemahaman tentang kemakmuran rakyat secara keseluruhan tidak menjadi tujuan utama, para Raja-raja dan Pemimpin masyarakat merasa yang penting adalah kemakmuran diri sendiri atau kelompoknya saja, rakyat bukan faktor didalam mencari kesejahteraan, mereka bukan subyek melainkan hanya obyek semata. Hubungan antar kerajaan sangat diwarnai oleh kepentingan Pemimpin semata.

 

2.      Keterasingan para Pemimpin/Elite dari Rakyat

Oleh karena sempitnya wawasan yang berkembang waktu itu, semua kegiatan terfokus pada perebutan kekuasaan, Hal tersebut dapat terjadi karena ketidak berdayaan masyarakat dalam menghadapi persoalan-persoalan ekonomi, sosial maupun budayanya, sehingga masalah kekuasaan menjadi faktor utama yang dianggap penting karena dianggap mampu mengatasi berbagai permasalahan tersebut khususnya masalah ekonomi, maka sampai saat ini masih berlangsung sama, dalam kondisi krisis multidimensi, menyebabkan banyak orang memperebutkan kekuasaan, khususnya untuk memperjuangkan dirinya maupun kelompoknya.

 

3.    Runtuhnya Persatuan Bangsa

Akibatnya runtuhlah Persatuan Bangsa, seluruh kekuatan Bangsapun runtuh, rakyat kita tidak mempunyai kemampuan lagi, jangankan untuk disegani oleh Bangsa lain, membela kepentingan sendiri saja tidak mampu. Dengan terjadinya pergeseran ‘degradasi’ budaya, yang menyebabkan setiap orang semakin tidak peduli dengan orang lainnya, belum lagi dipengaruhi dengan permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi semakin kompleks, orang semakin tidak meyakini dirinya bahwa dia adalah bagian dari suatu Bangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Merdeka ini, karena orang merasa harus berjuang sendiri ditambah semakin tajamnya persaingan dengan Bangsa lain yang lebih maju, semakin memerosotkan rasa percaya diri masyarakat, sehingga akhirnya mereka tidak memiliki rasa ikut memiliki Negara ini,  masyarakat semakin tidak peduli, kalau sudah begini Negara dan Bangsa ini mau dibawa kemana dan jadi seperti apa nantinya.

 

Kebangkitan Nasional

20 Mei 1908 yang sekarang kita peringati sebagai hari Kebangkitan Nasional, karena pada waktu itu berkumpul beberapa orang cendekiawan yang berhasil merubah wawasan kita, hanya dengan meningkatkan kecerdasan Rakyat Bangsa kita dapat meraih Kemerdekaan, Wawasan itu telah mengantar kita pada kehidupan yang lebih baik.

Tentunya momentum tersebut dapat menjadikan pelajaran bagi kita pada saat sekarang ini, perlunya ditumbuhkan rasa memiliki Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga akan banyak yang ikut memikirkan bagaimana sebaiknya kita menghadapi kondisi dan situasi saat ini dan masa mendatang.

Berbagai contoh keberhasilan menyatukan persepsi Bangsa dalam konteks membela kepentingan Negara, seharusnya tetap ditumbuhkan dalam pendidikan masyarakat baik itu secara sistemik maupun melalui berbagai kelompok masyarakat. Sehingga nantinya dapat terbentuk suatu Karakter Bangsa yang memiliki kepedulian tinggi bagi Pembangunan Bangsa dan Negaranya.

 

Sumpah Pemuda

Wawasan baru ini kemudian menimbulkan kesadaran baru tentang pentingnya Persatuan Bangsa Indonesia yang akhirnya para generasi muda saat itu melahirkan Sumpah Pemuda. Persatuan Indonesia inilah yang mengantarkan ke Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Persatuan Indonesia ini adalah atas dasar KEBANGSAAN, bukan atas Dasar Agama maupun Etnis, yang dikukuhkan dengan Ideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Dengan adanya Sumpah Pemuda yang dilakukan pada waktu itu, tentunya dapat memperkuat Bangsa ini dalam mempertahankan jati dirinya, khususnya dalam memperjuangkan masa depan Bangsanya. Terjadinya berbagai perubahan Undang-Undang Dasar 1945 tentunya juga mempengaruhi arah perkembangan masyarakat, Bangsa dan Negara, apabila ternyata hasilnya tidak sesuai dengan kondisi Bangsa dan Negara perlu tetap dikembangkan suatu sistim berBangsa dan berNegara yang lebih sesuai, atau mengambil apa yang baik dimasa lalu, dan menghilangkan yang kurang baik untuk dilaksanakan dimasa mendatang. Atau jika perlu apabila UUD 1945 yang lama lebih baik maka dapat pula dikembalikan ke kondisi semula, yang penting mana yang terbaik bagi kepentingan Bangsa ini.

 

Peran TNI dan POLRI

Para pendukung paham Kebangsaan ini kemudian membentuk Tentara Nasional Indonesia guna menghadapi penjajah Belanda yang menjajah kembali Indonesia dan dengan semangat Kebangsaan ini, TNI yang baru saja dibentuk berhasil mematahkan upaya penjajah yang kita kenal dengan peristiwa 10 Nopember di Surabaya, TNI selalu berada digaris terdepan dalam menjaga paham Kebangsaan ini.

 

Saudara-saudaraku yang Saya Cintai dan Saya Banggakan,

Tentunya falsafah kebersamaan dalam mengusir penjajah tersebut dapat mengajarkan kepada generasi saat ini, bahwa Kekuatan Bangsa diperoleh dari perjuangan bersama yang saling menguatkan bukan malah saling merugikan bahkan mencerai beraikan Persatuan dan Kesatuan Bangsa.
Marilah kita bangun kembali kebersamaan dalam memperjuangkan kepentingan bersama ini, secara lebih sinergis dan saling mendukung serta menguatkan situasi dan kondisi bagi pejuang yang masih aktif maupun yang telah mengakhiri masa kedinasannya.

Tentunya pelajaran yang diperoleh dalam mempertahankan Negara, dalam pengalaman sejarah seharusnya akan menjadi kekuatan potensial dalam menghadapi siapapun, sehingga tercipta suatu Negara yang kuat, jika segenap lapisan masyarakat dan TNI serta POLRI nya bersatu menghadapi kondisi apapun, maka diharapkan akan menjadi ‘sumber kekuatan’ yang menambah kekuatan dalam menjaga Kedaulatan Negara dan Bangsa.

Pancasila sebagai Ideologi yang mengikat segenap Rakyat Indonesia, sebagai kontrak politik, sebagai Dasar Negara perlu di jaga. Sehingga dalam kondisi seperti saat ini, dimana era globalisasi mengintervensi wacana melalui kekuatan berbagai media, khususnya media elektronik, berhasil menciptakan opini publik, untuk menciptakan berbagai situasi yang ada.

Berbagai Pusat Kajian, dan Lembaga informasi elektronik, secara sistemik menciptakan berbagai jaringan Komunikasi Masyarakat, yang mampu melawan kondisi lama dalam penciptaan opini publik. Kondisi ini sebetulnya mampu di antisipasi oleh FKPPI, karena Keluarga Besar FKPPI memiliki potensi SDM maupun jaringan komunitas di dalamnya mampu juga untuk melakukan peciptaan opini bahkan mampu juga menciptakan situasi dan kondisi tertentu.

Organisasi FKPPI adalah salah satu Organisasi Kemasyarakatan yang memiliki kekuatan besar karena dinamika keanggotaannya, dimana anggotanya terdiri dari berbagai latar belakang politik melalui partai yang berasaskan sama dengan FKPPI. Namun demikian apabila tidak diarahkan untuk melakukan pencapaian tujuan bersama maka masing-masing anggota hanya akan melakukan aktifitas sesuai dengan kepentingan partai masing-masing atau bahkan hanya melakukan kegiatan kelompok atau golongan tertentu saja.

Untuk itu organisasi sebagai alat pemersatu dan alat untuk mencapai tujuan bersama, tentunya membutuhkan kesiapan dan kebersamaan seluruh Pengurus dalam menjalankan tugasnya untuk dapat mengabdi bagi kepentingan bersama.

Tentunya keluarga besar FKPPI sebagai ‘creative group’ (kelompok yang memiliki kreativitas) dalam berkarya telah memiliki berbagai sarana dan prasarana yang legal berdasarkan peraturan organisasi maupun perangkat organisasinya, sehingga seharusnya melalui berbagai lembaga yang dimiliki diharapkan dapat lebih dioperasionalkan secara optimal, sehingga akan sesuai dengan cita-cita organisasi yaitu kesejahteraan anggota FKPPI.

Maka kami mengajak para kader keluarga besar FKPPI yang saya cintai dan saya banggakan untuk merapatkan barisan dalam momen silaturahmi ini, khususnya dapat merefleksikan kembali hal-hal apa yang menjadi kebutuhan kita, maupun kebutuhan Bangsa dan Negara kita, sehingga senantiasa dapat selalu kita komunikasikan untuk menentukan arah bersama dalam perjuangan menghadapi berbagai permasalahan baik itu masalah organisasi maupun masalah Bangsa dan Negara yang kita cintai ini.

Dengan demikian maka marilah kita membuat berbagai aktifitas dalam berbagai skala teritorial maupun aktifitas rutin agar dapat memaknai perjalanan organisasi FKPPI dalam rangka pengabdiannya. Sehingga dalam menyikapi berbagai situasi dan kondisi yang berkembang akhir-akhir ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang harus tetap menjadi dasar  dari berbagai kegiatan kita kepada seluruh kader FKPPI dimanapun berada:

1.    FKPPI harus tetap konsisten dalam turut menjaga dan mengamalkan PANCASILA, UUD’45, NKRI serta ke Bhinekka Tunggal Ikaan, maka FKPPI  mempunyai kewajiban untuk mengawal dan mewarnai agar tetap pada cita-cita Kemerdekaan Republik Indonesia.

2.    FKPPI perlu meningkatkan kekompakan antar anggota, agar lebih  kukuh,  lebih optimal dan dapat  turut serta menciptakan suasana aman dan tertib bersama TNI-Polri dan komponen bangsa lainnya.

3.    FKPPI harus dapat mengambil peran dan menjadi pihak yang dapat memberikan solusi bagi berbagai permasalahan yang berkembang diseluruh   pelosok tanah air.

4.    FKPPI harus berperan dalam menjaga perdamaian namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap upaya-upaya pihak lain yang akan mengancam kredibilitas dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Saudara-saudaraku yang Saya Cintai dan Saya Banggakan,

Demikianlah pesan kami, atas nama Keluarga Besar FKPPI dalam rangka memperingati 4 (empat) Windu perjalanan keluarga besar FKPPI sejak didirikannya pada 12 september 1978,  selamat berjuang serta berkarya bagi kebesaran dan keberhasilan organisasi dalam mengabdi untuk kepentingan Bangsa Dan Negara

Sekian dan terima kasih.


Atas Nama Keluarga Besar PP FKPPI,



PONTJO SUTOWO

KETUA UMUM PP.FKPPI

 

Sambutan Ketum FKPPI pada HUT ke 32 tshun                      Ketum FKPPI potong tumpeng HUT FKPPI ke 32

 

 

Halal Bi Halal dan HUT FKPPI 32 dirumah KETUM

Last Updated ( Wednesday, 13 October 2010 00:09 )