FORUM KOMUNIKASI PUTRA PUTRI PURNAWIRAWAN DAN PUTRA PUTRI TNI POLRI

Home Berita Umum Perubahan & Patriotisme

Perubahan & Patriotisme

E-mail Print PDF
     Sejarah telah membuktikan bahwa, Bangsa Indonesia sejak dahulu kala telah berjuang ke arah terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Sejak jaman kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, Bangsa kita telah berjuang untuk menegakkan Persatuan dan Kesatuan dalam suatu tata kehidupan, yakni dengan menanamkan pentingnya nilai keterikatan keragaman berbangsa yang terdiri dari berbagai suku  dalam keaneka ragaman dan nilai budaya yang tinggi dalam satu wadah di satu kepulauan, bernama Indonesia.
 
     Dari refleksi kisah perjuangan kemerdekaan juga telah terbukti betapa tingginya semangat perjuangan Bangsa Indonesia untuk mengusir dan melawan penjajah sejak awal penjajahan Belanda sampai dengan tercapainya Kemerdekaan RI. Para Pejuang dengan gigih dan penuh pengorbanan berjuang mengangkat senjata melawan penjajah, dengan satu tujuan; mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat dan bersatu.

      Adalah sebuah kewajiban yang Universal, dimana generasi yang lebih tua agar mewariskan - tidak hanya pengetahuan tentang tonggak sejarah atas kejadian yang terjadi di masa lalu - namun juga terutama tentang semangat Patriotisme yang berpengaruh atas perjalanan hidup dalam berbangsa dan bernegara. Karena dengan demikian akan tercipta suatu hubungan emosional secara timbal-balik di antaranya dalam kaitan semangat Patriotisme. Hal ini menjadi sebuah tuntutan yang layak, agar generasi muda dapat menghargai jasa-jasa Pejuang dan Pahlawannya sehingga mereka menempatkan para Pejuang dan Pahlawan di tempat yang terhormat.
 
      Patriotisme yang dianut oleh Bangsa Indonesia adalah Patriotisme yang konstruktif, dimana sebuah keterikatan kepada Bangsa dan Negara lebih berpeluang membuka ruang kritik dan pertanyaan dari masyarakat, anggota kelompok maupun individu terhadap berbagai kegiatan yang mengarah pada perubahan positif guna mencapai kesejahteraan bersama. Walaupun demikian, Patriotisme konstruktif juga menuntut kesetiaan pada kelompok Bangsanya, tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Kritik dan analisa terhadap kelompok yang dicintai seseorang justru merupakan bentuk ungkapan kesetiaannya, sehingga kritik dan analisa ini akan bertujuan untuk menjaga keutuhan kelompoknya agar tetap pada jalur yang semestinya.
 
      Semangat yang ada sejak jaman dahulu kala yaitu, mencintai dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, meskipun dia harus berkorban untuk mencintai Negaranya yang berfalsafah Kejujuran dan Ketuhanan, memiliki arti penting bagi Persatuan, serta bagi kerakyatan dan keadilan sosial Negara Kesatuan Republik Indonesia. Inilah yang terkandung dalam nilai-nilai Dasar Negara kita yaitu Pancasila.
 
        Patriotisme yang kita anut bukanlah Patriotisme buta, yang dapat berakibat buruk bagi kelompok lain dan juga dapat membahayakan bagi kelompoknya sendiri. Tidak terbukanya ruang untuk kritik dan evaluasi semacam ini akan menyebabkan kelompok berjalan tanpa pengendalian hingga bisa memunculkan ego kelompok tertentu, maka tidak mustahil akan mengarah pada timbulnya ego Negara. Kenyataan ini yang kemudian oleh Negara-Negara otoriter di masa lalu melahirkan istilah ‘Right or wrong is my country’.
 
       Oleh karena itu, seseorang layak disebut Patriot jika menjunjung tinggi dan mencintai kelompoknya baik itu kelompok Bangsa atau Negara, namun lebih dari itu juga harus menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Kondisi pewarisan nilai-nilai Patriotisme dari orang tua kepada anaknya juga diharapkan akan mampu memberikan dorongan kepada suatu kemajuan yang hakiki dan dapat meningkatkan kualitas pembangunan itu sendiri termasuk pembangunan nilai Patriotisme.
 
       Namun sayangnya, dalam menyikapi kondisi era reformasi yang tadinya diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup Bangsa, karena kompleksitas dan kondisi internal maupun lingkungan strategisnya yang tidak mendukung, maka banyak sekali kekurangan-kekurangan yang terjadi akibat tidak adanya tolok ukur tentang berbagai hal yang dapat disepakati semua pihak, apalagi bila tidak mengacu pada Pancasila dan UUD’1945.
 
        Masih banyak silang pendapat dan berbagai aturan yang dibuat oleh berbagai kelompok tanpa mencapai suatu kemufakatan nasional, atau mungkin cara mensosialisasikannya yang tidak cukup dana dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat, sehingga sebagian kelompok menyuarakan lewat demonstrasi “alami” maupun demonstrasi yang “diciptakan” .
 
       Sebagai konsekuensi logis perkembangan jaman, dimana makin banyak rakyat yang berpendidikan tinggi, sehingga semakin banyak tokoh yang bermunculan bak “dewa” yang mampu mengusulkan suatu konsep tolok ukur kesepakatan Bangsa,  perubahan besar pun terjadi, namun seakan tanpa batasan lagi. dari kondisi ini timbullah suatu “otoritarian model baru” dimana yang berkuasa merubah, bisa merubah apa saja tanpa membutuhkan sebuah Kesepakatan Nasional. Dan akibatnya disadari atau tidak, dapat merugikan kepentingan Bangsa dan Negara.
 
       Adanya suatu perubahan yang tidak memiliki konsistensi terhadap nilai dasar Bangsa dapat merugikan masyarakat. Contohnya saja, apabila menginginkan usulannya disetujui, maka dipakailah istilah  ‘mengatasnamakan Rakyat’ alih-alih seakan sesuai dengan Sila ke empat dari Pancasila, sehingga menjadi dasar kekuatan pemutus kebijakan. Padahal kenyataan lain menunjukkan  dalam memilih pemimpin tidak lagi menggunakan Sila keempat Pancasila sebagai landasan hukumnya namun dengan cara “voting” sebagai pemutus kebijakan.
 
       Kondisi lain yang juga patut untuk direnungkan adalah dengan adanya amandemen UUD’45 yang menjadikan kerancuan dan kerugian dalam kepemilikan dan pengelolaan aset Bangsanya sendiri.  Bagaimana dengan nasib rakyat yang merasakan akibat dari perubahan tersebut di atas. Apakah hal ini  bukan lagi masalah utama? Sebab pada kenyataannya, dengan mewacanakan berbagai kesulitan krisis global dan berbagai krisis multidimensi semua permasalahan yang terjadi seakan-akan hanya bisa dapat diselesaikan apabila uang yang memutuskan,
 
       Lalu bagaimana jika hal ini dikaitkan dengan sikap Patriotisme? Timbul pertanyaan tentang Patriotisme dari yang turut mengawasi dan mencintai Bangsa dan Negara ini. Apakah kita  hanya menunggu nasib karena tidak ada yang bisa merubahnya, kecuali beberapa kelompok yang mampu berbuat sendiri demi mengatasi permasalahan dengan caranya masing-masing.
 
       Meskipun dalam era Demokrasi, berbagai pihak menjabarkan demokrasi dengan berbagai sudut pandang, meskipun sesungguhnya definisi Demokrasi hanya satu yaitu “kekuasaan ada ditangan Rakyat”. Dengan maksud agar adanya pengawasan dan mengajak rasa kebersamaan untuk mencintai Bangsa dan Negaranya. Namun sebagian orang ada yang menterjemahkan lain, sehingga seakan-akan semua rakyat bebas merubah apa saja tanpa diperlukannya suatu tolok ukur tentang sesuatu yang harus disepakati secara Nasional.
 
       Adapun para pewaris Pejuang yang secara langsung sebagai anak Pejuang atau akibat pendidikan yang mengharuskan mereka menjadi Pejuang saat ini, seharusnya memiliki rasa Patriotisme yang lebih tinggi karena mendapat pendidikan secara langsung oleh orang tuanya maupun oleh lembaga pendidikan yang dapat menjadikannya Pejuang pada masa kini. Meskipun keluarga Pejuang ini tidak pernah meminta untuk dilahirkan namun terlahir menjadi anak Pejuang yang mewarisi darah Pejuang serta pendidikan Kejuangan melalui cerita-cerita sejak masa kecilnya.
 
       Maka sangat ironis sekali apabila yang dididik maupun yang diwarisi tidak memiliki nilai Kejuangan yang minimal sama, yaitu mencintai Bangsa dan Negaranya.  Khususnya memberikan penghargaan dan menempatkan para Pejuang ditempat terhormat, tidak hanya dikala telah gugur, namun penghargaan nyata bukan hanya suatu tanda/bintang kehormatan kepada para Pejuang disaat masih aktif/dapat berjuang baik dalam bentuk fisik maupun non fisik.
 
       Misalnya dengan pemberian tempat tinggal yang layak dan atau jaminan hari tua, yang semestinya dapat diatur semasa yang bersangkutan masih aktif dalam masa dinasnya. Melalui suatu institusi seperti ASABRI atau institusi lainnya yang mengatur tentang jaminan hari tua termasuk tempat tinggalnya. Dengan demikian para Pejuang Bangsa dan keluarganya, akan tetap bangga terhadap Korps yang menghargai dan memperhatikan jasa anggota Korpsnya yang telah berjuang demi Bangsa dan Negaranya.
 
       Dalam suatu perkembangan pembangunan Negara ditengah-tengah Negara lainnya, diharapkan kita mampu menyelesaikan sendiri masalah Bangsanya, sekalipun kita mampu membantu Bangsa lainnya, namun dengan memilih skala prioritas tentunya kita harus mampu mencarikan jalan keluar yang terbaik bagi kepentingan Bangsa dan Negaranya sendiri. Dengan melihat kondisi dan kemampuan yang dimiliki tentunya terdapat berbagai cara yang lebih konstruktif, dalam menyelesaikan suatu permasalahan, bukan malah membuat masalah baru yang lebih memperumit masalah yang ada.
 
       Hal itu dapat terjadi karena, kebanyakan orang memilih cara termudah dan murah, untuk menyelesaikan permasalahan, tanpa mengingat cara lain yang ada namun mungkin dianggap lebih mahal, seperti yang kita ketahui bersama dalam konsep pemikiran bisnis orang tahu bahwa “didalam suatu kesulitan selalu terdapat peluang”. Maksudnya yaitu setiap kondisi dimungkinkan untuk dapat diupayakan agar terjalin suatu kerjasama yang saling menguntungkan, sehingga lebih manusiawi dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan apalagi direndahkan hak dan martabatnya sehingga akan dapat berakibat semakin memecah belah rasa Persatuan dan Kesatuan Bangsa.
 
        Marilah kita renungkan perlunya rasa kebersamaan dalam menyelesaikan masalah secara Sinergis dengan mengenyampingkan kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu, meskipun mungkin harganya lebih mahal, tidak akan semahal harga suatu Persatuan dan Kesatuan Bangsa, apalagi bila dibandingkan dengan pengorbanan para Pejuang Bangsa. Semoga para pemimpin dan calon pemimpin Bangsa pada saat ini akan dapat lebih menghargai perjuangan para Pahlawan dan Pejuang Bangsanya.

Penulis
 
 
Hendri Dwiwantara
Last Updated ( Sunday, 22 March 2009 17:57 )